Kamis, 25 Desember 2008

The Visitor (2007), sedikit belajar tentang hidup lewat film.

In a world of billion people, it only takes one to change your life.


Premis di atas begitu menarik ketika tanpa sengaja gw menemukan film ini. Bukan karena film ini meraih banyak penghargaan di berbagai festival, bukan pula karena ada Richard Jenkins sebagai pemeran utama (sebelumnya tampil menarik di film Burn After Reading garapan sutradara nyentrik--Coen Brothers--yang gw tonton tempo hari). Gw tertarik, karena film ini berbicara soal passion, soal "what the fuck am i doing right now?".

Gw jadi teringat film Lost In Translation, film ini juga dengan fasih membawa isu yang sama. Ketika Bill Murray mempertanyakan hidupnya lewat komedi yang sarkastik, Richard Jenkins menjalani hidupnya dengan berusaha lari dari kenyataan lewat drama yang emosional. The Visitor, membawa penonton kepada sebuah pemikiran sederhana yang sedikit utopis: "You can live your whole life and never know who you are until you see the world through the eyes of others". Klise memang, tapi ujuk2 menjadi film yang hiperbolis, Tom McCarthy mampu memberikan sudut pandang yang realistis dari awal film hingga ending cerita.

Sejak awal film, penonton dihadapkan pada sebuah kenyataan yang pahit. Profesor Walter Vale merasa hidupnya tidak memiliki arti semenjak kematian istrinya. Layaknya orang 'ngelindur', Walter menjalani hidupnya dengan mata tertutup dan apatis. Kehilangan passion untuk mengajar dan menulis, Walter mencoba pelarian dengan belajar bermain piano klasik yang lagi-lagi itu hanyalah sebuah pelarian tanpa keseriusan. Sang sutradara, tanpa perlu effort lebih, dengan mudah menggambarkan kesepian seorang Walter melalui shot-shot yang kontras antara Walter dengan lingkungan sekitarnya.

Kenyamanannya untuk terus berpura2 menikmati hidupnya terganggu ketika Koleganya menyuruh Walter untuk menghadiri pertemuan di Manhattan, New York. Di kota inilah, Walter kehilangan istri yang sangat dicintainya. Tetapi karena didorong terus oleh rekannya, akhirnya Walter pergi juga ke seminar tersebut, sekalian menengok apartemen lamanya. Kejadian yang luar biasa pun terjadi bagi Walter, Apartemennya tidaklah kosong seperti yang dia kira tetapi sudah dihuni oleh sepasang imigran gelap. Pasangan imigran gelap itu ditipu oleh temannya yang menyewakan apartemen Walter kepada mereka. Sadar bahwa mereka ditipu, akhirnya Tarek (Haaz Sleiman), imigran dari Syria dan pacarnya Zaenab (Danai Gurira) dari Senegal terpaksa keluar dari apartemen Walter. Walter yang merasa kasihan pada pasangan itu akhirnya mengijinkan mereka tinggal selama beberapa hari sampai mereka mendapat tempat tinggal baru.

Disinilah cerita dimulai. Ternyata setelah beberapa hari tinggal bersama dalam satu apartemen, Walter merasa mendapat teman kembali setelah tahunan lamanya hidup dalam kesepian dan menutup hati untuk orang lain. Bahkan Tarek yang seorang pemain Djembe (semacam kendang dari Afrika) mengajari Walter bagimana memainkannya. Tanpa bermaksud spoiler, The Visitor menjelma menjadi sebuah film humanis lewat masalah2 yang menuntut perubahan yang signifikan dalam diri Walter. Bagi gw, karakter Walter menjelma menjadi sosok yang sangat simpatik dan sensitif, tentunya berkat performa akting Richard Jenkins yang superb!

Banyak orang beranggapan bahwa ini adalah film politik yang mengangkat isu tentang penduduk illegal, tentang Amerika yang sedang kebingungan antara menjaga hak asasi manusia dan kemudian malah melanggarnya. Tapi gw lebih senang menganggap The Visitor adalah film yang mengangkat tema humanisme lewat masalah hak asasi manusia tadi. Film ini begitu realistis menceritakan pengandaian yang terjadi apabila seseorang saling bertemu (bump into each other)--dengan segala hasrat dan keterbatasannya --mengekspresikan sisi kemanusiaan yang terbaik dari masing2 karakter. Gw juga mencium sedikit isu rasisme di film ini. Misalnya Zaenab yang seorang muslim berkulit hitam memiliki sedikit ketakutan kepada Walter yang berkulit putih, Zaenab sendiri ternyata bersahabat dengan seorang teman yang ternyata adalah imigran dari Israel. Gw jadi teringat film Crash yang menang Oscar tahun 2005 lewat tema yang sama. Gw harap The Visitor mampu menarik perhatian juri Academy Award untuk masuk nominasi Best Picture :)

Rasa-rasanya film ini patut ditonton semua orang, terutama bagi mereka yang memiliki pertanyaan yang sama dengan kata-kata gw di awal. Marilah kita sedikit2 belajar tentang hidup lewat film.

2 komentar:

tammi prasetyo mengatakan...

spoiler yang lo tulis malah bikin gue tertarik buat nyari filmnya, ;)

anyhoo, salam kenal.

100 layers mengatakan...

salam kenal juga tammi...

ahaha...tonton deh filmnya.
good movie.